Langsung ke konten utama

Selamat Jalan, Bro!

Bang Yamin bersama Gw dan Teh Selvi, Tim Redaksi Akarpadi

Pagi-pagi, telepon genggam berbunyi saat sedang mengantarkan istri ke Stasiun Depok Baru. Ternyata, bokap yang menelepon. Gw pun lalu mengirimkan pesan teks ke bokap untuk menyampaikan hal yang ingin disampaikan melalui teks Whatsapp. Lalu, gw pun melaju kembali.

Jam 8.15 WIB gw sampai di kantor. Gw lalu mengecek telepon genggam dan melihat adakah pesan dari bokap yang masuk. Terlihat di layar, satu pesan masuk. Membaca kabar itu, gw tersentak. Terdiam beberapa saat.

Tertulis "Ayah dapat informasi dr Om Untung Nasution, Yamin wafat tadi selepas subuh. Jam 03.42 isterinya WA ayah, tp ayah msh tidur. Jam 05. 48 kontak ayah, ayah masih tidur," tulis bokap dalam pesannya. Gw butuh beberapa menit untuk mencerna pesan itu. Benarkah kabar itu?

Ya, sosok yang dikabarkan bokap telah meninggal dunia itu merupakan sosok berarti dalam hidup gw. Pria bernama lengkap Muhammad Yamin Panca Setia merupakan sosok abang, guru, kawan diskusi, sekaligus sahabat.

Tak lama memang gw mengenalnya. Baru sekitar dua tahun lebih. Pertama kali mengenalnya, saat kami sama-sama bekerja di PT Akarpadi Selaras Media. Namun, dua tahun itu berasa seperti sudah puluhan tahun gw mengenalnya.

Gw memanggilnya dengan panggilan Bang Yamin. Alasannya sederhana, dia jauh lebih tua dari gw. Selama bekerja di bawah asuhannya, yakni sebagai reporter sekaligus penulis, banyak hal yang Bang Yamin bagikan ke gw. Mulai dari pengalaman menulisnya, prestasinya dulu, hingga petuah-petuah bijak.

Ia merupakan sosok pemimpin yang apik, berdedikasi, profesional, dan objektif. Selama menjadi stafnya, gw tidak pernah merasa sedang bekerja di bawah seorang pimpinan. Sebab, Bang Yamin memperlakukan stafnya selaiknya kawan setingkat, dan bahkan saudara sendiri.

Dia sering memberikan kritik pada gw dan teman satu tim perihal tulisan kami bila dirasanya kurang bagus. Gw pernah dimarahi Bang Yamin karena tulisan gw dulu sering terdapat reduplikasi.

Dia juga tak segan memuji saat tulisan anak buahnya bagus. Bahkan, ia sering mendorong kami untuk mengirimkan tulisan ke lomba-lomba menulis yang bertebaran.

Bang Yamin juga berani untuk membela anak buahnya bila benar. Pernah ada satu kejadian, klien meminta artikel yang ditulis oleh gw dan teman gw untuk diubah. Melalui telepon, klien gw memarahi Bang Yamin karena ia menilai artikel yang kami buat tidak mengangkat citra perusahaannya.

Dengan lantang dan lugas, Bang Yamin menjelaskan bahwa artikel kami sudah bagus dan layak untuk naik dalam produk majalah internal perusahaan klien yang tengah kami garap. Namun, perwakilan klien kami tetap mengoceh.

"Mencret saja kalau artikel itu harus diubah," bentak Bang Yamin. Sontak gw dan teman-teman kantor di lantai bawah terkaget-kaget. Tak lama, Bang Yamin menutup telepon.


Ia kemudian menghampiri tim desain dan berkata, "artikel anak-anak jangan ada yang dipangkas. Gw yang tanggung jawab."

Dia begitu membela kerja keras gw dan teman gw dalam menyusun artikel itu. Bang Yamin tahu betul bagaimana kami mencari data dan menuliskan artikel itu dengan jerih payah yang luar biasa. Dia bela tulisan kami yang memang menurutnya sudah bagus.

Gw, teman gw, dan Bang Yamin, sebagai satu tim redaksi, sering sekali menginap di kantor. Ketika teman-teman sekantor sudah pulang semua, terkadang, ada sesi curhat bersama dia.

Selama mendengarkan keluh kesah dari kami, Bang Yamin selalu memberikan petuah-petuah bijak. Ia pun memberikan pandangan objektif terhadap masalah kami. Secara khusus, Bang Yamin pernah memberikan nasihat panjang lebar kepada gw. Ia menginginkan gw untuk lebih berkembang, maju, dan sukses di kemudian hari. Entah apa yang dilihatnya saat itu, dia begitu panjang lebar menasihati gw.

Pasca goyahnya perusahaan, gw dan Bang Yamin harus berpisah. Ia kembali ke Lampung dan gw di Jakarta. Meski begitu, kedekatan kami berdua begitu terjaga. Kami sering bertukar kabar dan saling menyemangati keadaan masing-masing, kala itu belum bekerja tetap.

Kami bertemu lagi akhir 2017. Gw bercerita sudah diterima kerja di Mafindo. Dia bercerita tentang kesibukkannya. Kala itu, Bang Yamin masih mendorong gw untuk terus melatih kemampuan menulis.

Setelah itu, kami jarang berbincang karena kesibukkan masing-masing. Bahkan, kami juga jarang bersua melalui pesan singkat ataupun teks Whatsapp.

Menjelang bulan Puasa 2018, tepatnya sekitar bulan Mei 2018, gw mendengar kabar dari bokap kalau Bang Yamin masuk rumah sakit di Magelang, Jawa Tengah. Ia terkena gejala stroke. Gw coba kontak Bang Yamin, namun tidak ada balasan. Gw berpikir positif saja, mungkin dia masih belum sempat memegang telepon genggamnya.

Seminggu setelah kabar itu, Bang Yamin membalas pesan gw di Whatsapp. Dia memberi tahu perihal keadaannya. Dari perbincangan kami berdua melalui pesan Whatsapp itu, gw berpesan kepadanya untuk jaga kesehatan dan fokus pada pemulihannya.

Gw kembali bertukar kabar dengan Bang Yamin pada tanggal 5 Juni 2018. Saat itu, setelah posting debunking hoax di Forum Anti Fitnah Hasut dan Hoax (FAFHH), kerjaan gw di Mafindo, gw lihat akun Facebook Bang Yamin aktif.

Gw pun mengirimkan pesan chat kepadanya. Kami berbincang, saling menanyai kabar. Hingga di ujung kabar, Bang Yamin malah menasihati gw perihal kesehatan. "Hati-hati bro. Jangan kelewat ngoyo," tulisnya. Nasihat itu dia berikan lantaran gw bercerita kalau sudah memiliki penyakit kolesterol dan trigliserida.



Ia pun berpesan, "Berhentilah begadang."

Pembicaraan gw dan Bang Yamin diakhiri dengan kalimat darinya, "Selamat berpuasa ya Il."

Pesan itu masih terngiang hingga hari ini.

---

Jujur, pada saat bokap memberitahu kabar meninggalnya Bang Yamin, gw gak percaya. Sebab, gw tahu Bang Yamin memiliki semangat hidup yang tinggi.

Ia merupakan sosok yang bersemangat, optimistik, dan bekerja keras. Selain itu, Bang Yamin merupakan orang yang idealis dan pemikir ulung.

Beragam tulisan-tulisannya membuktikan bahwa ia merupakan seorang intelektual. Meski, perlu waktu untuk mencerna beberapa isi tulisannya.

Bang Yamin tidak pernah pelit membagikan ilmunya. Kalau boleh jujur, dialah yang memberikan pondasi pemikiran politik gw saat ini. Dia mengasah cara pandang, cara menganalisis, hingga memposisikan diri dalam hal melihat perilaku dan dinamika politik.

Kehilangannya sunggu berat buat gw. Sebab, jarang gw bisa sedekat ini dengan orang yang satu kerjaan.

Mungkin, Allah sangat menyayangi Bang Yamin, karena kebaikan dirinya. Allah mencabut penderitaannya dari sakit stroke yang menjalar dalam tubuhnya. Selamat jalan Bang Yamin. Budi baikmu akan terus melekat dalam tiap jejak langkah dan tulisan gw.


Komentar